Majalah Dinding

Setiap kelas berkewajiban mengembangkan majalah dinding dibantu oleh wali kelasnya.

Pelatihan Penulisan Puisi

Penulisan puisi bersama Mas Agustav sebagai bagian dari GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Baca Buku 15 menit

Baca buku 15 menit sebelum mata pelajaran sebagai bagian dari GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Pelatihan Jurnalistik

Pelatihan Jurnalistik bersama Mas Ryan Rahman (Wartawan Suara Merdeka).

Pojok Baca

Adanya pojok baca di tiap kelas untuk mendukung GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Training Motivasi Kelas IX

Training Motivasi SMP N 3 Kutasari
Jum'at, 23 Februari 2018 bertempat di Ruang laboratorium IPA, SMP Negeri 3 Kutasari menggelar acara Training Motivasi untuk anak Kelas IX. Dari 93 siswa Kelas IX, 92 siswa hadir didampingi oleh orang tua/ wali siswa. Satu siswa atas nama Adi Setiawan dari Kelas IXA berhalangan hadir karena sakit.

Kegiatan dimulai pukul 07.50 WIB -mundur 35 menit dari jadwal semula- diawali dengan Sosialisasi Ujian Nasional yang disampaikan oleh Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Kutasari, Arsyad Riyadi, S.Si. Sosialisasi disajikan secara singkat, padat namun semoga jelas dimengerti oleh seluruh tamu undangan yang hadir. Meskipun dengan penuh kesederhanaan, baik dari segi tata tempat maupun fasilitas lain, namun seluruh tamu yang hadir antusias mengikuti seluruh kegiatan (menjadi catatan yang mengharukan). Sosialisasi Ujian Nasional ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Bapak Anjar Subekti, S.Pd.

Tepat pukul 8.30 WIB kegiatan inti yaitu Training Motivasi dimulai. Dibawakan oleh Pak Gangga, motivator dari Global Sukses Purwokerto, dengan penuh semangat berusaha membangkitkan motivasi sukses untuk siswa dan orang tua. Selama tiga jam penuh, sang motivator menguasai ruangan memberikan pengaruh-pengaruh positif pada seluruh yang hadir di ruangan. Jam 11.30 acara selesai dan dilanjutkan dengan Sholat Jumat berjamaah.

Setelah Sholat Jumat, siswa Kelas IX melanjutkan kegiatannya bersama Tim dari Global Sukses dengan agenda permainan beregu. Tentunya bukan sembarang permainan. Namun permainan yang mempunyai filosofi dan pengaruh positif pada diri siswa. Diguyur hujan lebat, ditemani petir yang bersautan, sungguh tak tampak lelah dan tak tampak dingin, yang tampak dari semuanya hanya kegembiraan saja. Acara berakhir tepat pukul 16.00 WIB. Semoga semua yang dialami hari ini membawa pengaruh positif bagi seluruh seluruh siswa Kelas IX. Semoga.


Share:

Jumat, 09 Februari 2018

Menitipkan Mimpi Pada Sekolah

Menitipkan Mimpi Pada Sekolah

Tahun 1987, saat itu aku duduk di bangku TK, berseragan atasan baju berwarna putih, bawahan rok hijau. Setiap pagi di antar sekolah oleh ibu sampai depan gerbang sekolah. Saat itu ,aku ingat betul, aku punya mimpi bisa mlebu radio, sebuah kegiatan unjuk kebolehan siswa siswi TK menggunakan media radio. Dahulu TK ku biasa siaran (demikian istilahnya) di Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Purbalingga. Akhirnya, kesempatan itu datang, di suatu hari aku siaran langsung di radio menghafal Surat Al Ikhlas. Ibu berkisah, konon katanya orang serumah meneteskan air mata haru mendengar suaraku. Sebuah kebanggaan bagi mereka. Pulang dari siaran itu, kuterima uang seratus rupiah dari nenek, bahagianya sungguh luar biasa.

Sepuluh tahun kemudian, tahun 1997, aku sudah duduk di bangku SMU, di sekolah ini tak lagi kutitipkan mimpiku semata, tapi ada mimpi bapak dan ibu yang turut serta di dalamnya dan sering tersebut di setiap doa. Mereka menitipkan mimpi supaya aku bisa masuk Fakultas Kedokteran. Mimpi yang agak sedikit berbeda dengan mimpiku. Tapi mimpiku dan mimpi mereka tak pernah bersiteru, dan  pada akhirnya mimpi kami tak ada yang mewujud mengikutiku. Dua kisahku itu, mungkin sudah bisa menunjukkan bahwa setiap bangku di sebuah sekolah itu punya mimpi tersendiri bagi yang mendudukinya. 

Mari merapat ke SMP Negeri 3 Kutasari, sebuah institusi tempat belajar dengan jumlah siswa 306 anak tahun ini. Di bawah didikan dan ajaran 16 orang guru, dibantu secara administratif oleh 8 staf TU, SMP Negeri 3 Kutasari menjadi tempat pilihan menitipkan mimpi. Seharusnya...
Mengapa seharusnya? Karena ada satu dua cerita yang membuat bangunan penitipan mimpi ini tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Sebutlah seorang siswa bernama Panda, duduk di Kelas IX, lebih dikenal sebagai siswa yang bandel, sering membolos, tidak konsentrasi belajar, suka cari perhatian, dan catatan cataan lain yang kurang bagus semua tentangnya. Tapi catatan-catatan itu terkadang kurang lengkap, beberpa perlu dilengkapi agar Pandu bisa nyaman menitipkan mimpinya di sekolah. Beberapa catatan tentang Pandu yang berusaha kulengkapi :
  1. Pandu tidak pernah infak setiap hari jumat, itu karena ia tidak pernah diberi uang saku oleh orang tuanya.
  2. Pandu sering membolos sekolah karena harus mengasuh adiknya yang masih balita ketika ditinggal ibunya bekerja.
  3. Pandu sering terlambat sekolah karena sering bangun kesiangan akibat membantu lemburan pekerjaan ibunya.
  4. Pandu selalu telat membayar iuran sekolah dan tidah pernah membeli LKS itu karena ayahnya yang sepi pekerjaan
  5. Pandu suka cari perhatian karena mungkin permasalahan di rumah sedemikian menganggu kesenangan masa kecilnya
  6. Pandu banyak bicara saat pelajaran karena mungkin ia butuh untuk didengarkan
Suatu hari kutanya Pandu, apa mimpimu? Dan dia menjawab tak punya mimpi apapun. Dia hanya ingin segera menyelesaikan sekolah lalu bekerja untuk keluarga. Ah, Pandu... bukankah itu juga mimpi...mimpimu tak berlebihan...tapi tak menggairahkan

Kasus Pandu di atas, hanya satu dari sekian banyak kisah yang menari-nari di SMP Negeri 3 Kutasari. Masih banyak hal yang perlu dibenahi, menjadikan sekolah sebagai tempat menitipkan mimpi ternyata tidak mudah. Apalagi untuk komunitas lingkungan yang tak punya banyak pilihan akan mimpi, terkunci oleh kemiskinan dan kisah hidup miris lainnya.

Namun setidaknya, ketika sekolah tak lagi menjadi tempat untuk menitipkan mimpi, jadikanlah sekolah sebagai tempat paling menghibur dan paling menyenangkan bagi orang-orang yang tak punya mimpi....


Kutasari, 10 Februari 2018
Dalam Mendung Sabtu Menghitung Mimpi
Share:

Senin, 05 Februari 2018

Membumikan Gerakan Literasi Sekolah

Pembiasaan baca buku 15 menit  SMP Negeri 3 Kutasari, www.spentriku.net
Baca buku 15 menit

Membumikan Gerakan Literasi Sekolah

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini telah digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam 2 tahun terakhir ini. Meskipun demikian, gerakan ini belum sepenuhnya membumi meskipun sudah banyak sekolah yang telah menerapkan program ini. Termasuk di dalamnya, menjamurnya berbagai pelatihan menulis, dari menulis cerpen, artikel sampai membentuk buku. Pelatihan menulis buku dan sejenisnya pun marak, khususnya di kalangan para guru.

Memasuki tahun 2018 ini, apakah Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sudah menyatu dengan budaya sekolah atau bahkan menjadi budaya baru di sekolah? Agaknya terlalu tergesa-gesa untuk mengatakan gerakan ini sudah membumi, meskipun juga merupakan pendapat “ngawur” jika mengatakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini hanya berada di awang-awang.

Sebelumnya, kita pahami kembali arti dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini. GLS ini merupakan upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat. GLS ini juga dimaksudkan untuk memperkuat gerakan budi pekerti seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Tentunya kalau diterapkan, gerakan ini mempunyai visi yang sangat luhur. Pertama, mengandung unsur partisipatif yaitu melibatkan seluruh komponen sekolah. Kedua, meningkatkan ketrampilan siswa dalam menerima berbagai informasi, mengelola dan bagaimana mengkomunikasikannya kepada orang lain. Ketiga, menjadi bagian yang terintegrasi dengan pendidik budi pekerti. Perlu diketahu juga bahwa pendidikan budi pekerti ini sejak beberapa tahun yang lalu telah didengung-dengungkan untuk diintegrasikan dengan kegiatan belajar mengajar di kelas bahkan juga dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Salah satu kegiatan dasar dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini adalah melalui kegiatan membaca 15 menit buku-buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Pembiasan membaca buku ini bisa dilakukan dengan membaca dalam hati, guru membacakan sebuah cerita dan kegiatan lain sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing. Pembiasaan membaca 15 menit ini sebagai dasar untuk menempuh tahap selanjutnya, yaitu tahap pengembangan dan pembelajaran.

Arti literasi dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini juga bukan sekedar kegiatan membaca dan menulis, tetapi termasuk di dalamnya kegiatan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan audiori. 

Dalam buku Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, disebutkan ada 6 komponen literasi yaitu literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, dan literasi visual.  Literasi yang pertama, yaitu literasi dini sebagai landasan dasar untuk memperoleh literasi dalam tahap berikutnya. Literasi dini ini mencakup kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Dalam literasi dini ini tentunya banyak melibatkan peran orang tua dan keluarga, guru/PAUD, dan juga pengasuh/pamong. Literasi usia dini ini tentunya tidak boleh berhenti. Untuk siswa SMP dan SMA misalnya, terkait dengan literasi perpustakaan mulai dikenalkan dengan sistem klasifikasi persepuluhan Dewey.

Bagaimana dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP Negeri 3 Kutasari Purbalingga alias Spentriku ini? Apakah sudah mulai dilaksanakan atau masih terasa di awang-awang? 
Di SMP Negeri 3 Kusatari sendiri, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah dirintis sejak tahun ajaran 2017/2018 dengan lebih intensif. Di awali dengan sosialisasi kegiatan ini melalui pembinaan saat upacara bendera, pemberian materi literasi pada siswa guru dan dalam berbagai kesempatan yang lain.

Kegiatan yang lain adalah melalui pembiasaan membaca 15 menit tiap hari rabu, serta adanya jam wajib perpustakaan selama 1 jam pelajaran/minggu. Untuk pembiasaan 15 menit, kegiatan ini dipantau langsung oleh wali kelas masing-masing, sedangkan untuk jam wajib perpus dipantau oleh guru BK, yaitu Ibu First Prihatini. Sebenarnya masih ada juga pembiasaan lain yang terkait dengan literasi, misalnya kegiatan tadarus setiap hari kamis pagi, kajian-kajian pada hari-hari tertentu dan sebagainya.

Sebelum libur semester gasal, sekolah juga mengundang 2 orang penulis yaitu Pak Agus Pribadi dan Pak Agus Triono. Keduanya guru di Purbalingga, penulis, pegiat sastra, pegiat budaya dan juga pegiat Penamas (Penulis Muda Banyumas). Agus Pribadi mengajarkan trik dan tip menuliskan cerpen sedangkan Agus Triono (alias Agustav) mengajarkan cara membuat puisi. Hasil karya siswa hasil pelatihan tersebut dalam jangka waktu dekat akan dibukukan. Tentunya setelah melewati seleksi dari tim Agen Literasi Spentriku yang digawangi oleh Bu Ika Setyarini, Bu Windi, Pak Anjar, Bu Ririn dan guru-guru lain.
Di sisi fasilitas sendiri telah dilakukan penataan ruang perpustakaan. Perpustakaan diatur sedemikian rupa sehingga ada ruang baca “lesehan” maupun ruang baca biasa. Di samping itu dilakukan penambahan buku bacaan dalam jumlah yang cukup signifikan. Di ruang perpustakaan sendiri juga disediakan 8 perangkat komputer yang terhubung ke internet. Di samping itu di sekitar area perpustakaan SMP Negeri 3 Kutasari terdapat hotspots khusus untuk siswa.

Dalam waktu dekat, di ruang guru akan dibuat pojok baca, tempat para guru membaca buku secara nyaman dengan berbagai referensi khususnya mengenai pendidikan. Demikian juga di tiap-tiap ruang kelas, akan dirintis adanya pojok-pojok baca serta pemanfaatan lemari di kelas sebagai tempat menyimpan buku-buku teks pelajaran dan buku lain.

Selain itu, untuk meningkatkan budaya tulis, dibentuk komunitas mading yang bertanggung jawab terhadap terbitnya mading sekolah. Tentunya nanti juga sebagai perintis terbitnya buletin bahkan majalah sekolah. Di setiap kelas sendiri, sebenarnya juga ada mading kelas, namun penerbitannya belum teratur. Sebatas jika ada intervensi dari sekolah atau wali kelas. Dengan dibentuknya komunitas mading ini, diharapkan sekali akan menjadi penggerak literasi di SMP Negeri 3 Kutasari.
Dengan perlahan, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini bukanlah sebuah program yang di awang-awang tetapi akan membumi, dan benar-benar bisa menjadi budaya sekolah.

Tentunya untuk mencapai perjalanan yang entah berapa jauhnnya perlu diawali dengan langkah kecil dulu.

Salam literasi. Salam GLS,




Jam wajib perpustakaan  SMP Negeri 3 Kutasari, www.spentriku.net
Jam wajib perpustakaan

Mading kelas SMP Negeri 3 Kutasari, www.spentriku.net
Mading Kelas

Mading kelas SMP Negeri 3 Kutasari, www.spentriku.net
Mading Kelas

Share:

Jumat, 02 Februari 2018

SEMARAKKAN KELAS ANDA

Kegiatan Belajar Mengajar di SMP Negeri 3 Kutasari
Kegiatan Belajar Mengajar di SMP Negeri 3 Kutasari

SEMARAKKAN KELAS ANDA


Membaca buku-bukunya Munif Chatib, yang berjudul Kelasnya Manusia membuat saya tidak dapat menahan diri untuk sedikit mengupasnya sambil mengajak para pembaca. Buku ini (baca : tulisan ini) saya tujukan untuk guru, wali kelas, ketua kelas, orang tua, siswa dan siapapun yang peduli dengan pendidikan di negeri ini.

Kalau bukunya Munif Chatib sendiri yang berjudul Kelasnya Manusia dengan sub judul Memaksimalkan Fungsi Otak Belajar dengan Manajemen Display Kelas, sedangkan untuk postingan ini cukup berjudul Semarakkan Kelas Anda. Dan dari judulnya, jelas postingan ini hanya mengambil secuil dari buku yang ditulis dari Munif Chatib. Hal ini semata-mata karena keterbatasan saya dan juga memang lebih baik memberikan sesuatu yang sedikit demi sedikkit (yang penting bermanfaat) ketimbang tidak berbagi sama sekali.

Bayangkan siswa Anda atau Anda sendiri masuk ke dalam kelas, dan yang terlihat meja dan kursi yang berbaris rapi bak serdadu dalam posisi siap. Dinding-dinding kelas tertempel gambar presiden dan wakil presiden, lambang Pancasila, para pahlawan dan beberapa tulisan berisi kata pepatah seadanya. Di bagian depan terdapat black board (eh white board ding) dengan beberapa noda hitam bekas spidol yang susah hilang. Di kanan kirinya menempel papan daftar siswa, daftar piket, daftar siswa yang tidak masuk, kalender dan pernik-pernik lainnya. Eh lumayan.. di bagian belakang ada mading karya siswa yang entahlah..berapa minggu, berapa bulan atau entah berapa tahun tak pernah ganti.

Dan suasana ruangan itu setiap hari ya seperti itu. Tak ada yang aneh, tak ada yang unik, tak ada yang baru, tak ada yang menggoda dari ruang kelas tersebut. Dan hebatnya, guru serta siswa yang menggunakan kelas tersebut tidak merasa bosan. Atau sebenarnya merasa bosan tetapi tidak ada kepekaan untuk membuat ruang kelas itu berbeda.

Coba ingat-ingat pernahkah kita dulu usil atau melihat kejadian begini. Ada siswa atau guru yang ulang tahun kemudian diberi kejutan di dalam kelas. Ada kue..ada lagu selamat ulang tahun..ada teriakan kegirangan…mata terbinar-binar dari yang ulang tahun atau bahkan sampai meneteskan mata. Ya..tentunya sangat meriah. Meskipun bukan itu yang diinginkan dari tulisan ini. Atau kalau ada yang ingat isengnya siswa-siswa kepada guru yang akan mengajar dengan memberikan jebakan-jebakan. Dari lemparan tepung, kursi yang dikasih lem sampai kursi yang ambruk ketika diduduki. Kalau ndak salah adegan guru yang diusili ini banyak di film-film, kalau ndak salah di filmnya Bobo Ho ya.

Oks…lanjut ya.

Hal yang perlu diperhatikan agar pembelajaran berjalan dengan baik adalah bagaimana RUANG KELAS sanggup memicu dan mempertahankan SELERA dan proses BERPIKIR. Ketika tak ada mood maka mau melakukan tindakan apapun tak akan maksimal. Alih-alih ilmu akan masuk..yang ada sekedar menunggu bel semata.
Bukankan seorang GURU setiap hari bermain-main dengan OTAK siswa. Yang perlu dilakukan tentunya bagaimana agar OTAK siswa tersebut mau berkompromi (baca : bergairah) untuk dibangkitkan agar mau dipakai untuk berpikir.
Tapi sebelum itu, marilah kita pahami dulu cara kerja otak.
Paul D. MacLean dalam bukunya yang berjudul The Triune Brain in Evoluton menjelaskan konsep triun brain, yaitu pembagian otak manusia menjadi tiga bagian yaitu otak reptil, otak limbik (mamalia) dan otak neokortek.

Otak reptil atau otak penjaga berada pada bagian paling belakang dari otak. Otak reptil ini berfungsi sebagai pengatur gerak refleks dan keseimbangan. Otak reptil ketika aktif akan membuat orang tidak dapat berpikir, yang berperan adalah INSTING dan LANGSUNG BEREAKSI.
Otak limbik atau otak pengatur berfungsi sebagai pengendali emosi atau pengatur emosi.
Otak neokorteks atau otak pemikir berfungsi untuk berpikir, berbicara, melihat, dan mencipta. Di sinilah pusat kecerdasan manusia, termasuk letak adanya INTUISI sebagai kecerdasan yang lebih tinggi dari nalar.

Dalam menerima informasi, diawali dari otak reptil dulu. Ketika otak reptil tidak terpuaskan maka informasi tersebut pun tidak akan sempurna ketika sampai limbik apalagi sampai ke neokorteks.
Terkait dengan kegiatan belajar mengajar agar SELERA BELAJAR siswa optimal maka yang dapat dilakukan adalah bagaimana agar otak reptil terpuaskan.

Apa yang dapat dilakukan oleh seorang guru agar otak reptil terpuaskan?

Pertama, selalu berpenampilan berbeda setiap hari.
Ada yang pernah menonton film Taare Zameen Par? Pada salah satu adegan sang guru yang diperankan oleh Aamir Khan memasuki ruang kelas dengan menggunakan baju badut dan bernyanyi riang gembira. Anak-anak pun larut dalam suasana tersebut. Setelah “klik”, sang guru tersebut memberikan sajian (eh pelajaran) yang jauh sekali cita rasanya dengan pembelajaran yang biasa diterima siswa-siswa tersebut.

Kedua, selalu mendesain display kelas yang unik dan berbeda-beda.
Ruang kelas merupakan kamar yang menyenangkan bukanlah seperti ruangan yang garing. Guru bukanlah sekedar sebagai guru, tetapi juga sebagai desain interior yang akan menyusun dan mengatur barang-barang yang ada di kelas termasuk setiap sisi-sisi dinding tembok kelas. Prinsip utama yang perlu diperhatikan adalah visibilitas atau keleluasan pandangan, aksesibilitas atau mudah dicapai, flesibilitas atau keluwesan serta keindahan. Termasuk di dalamnya adalah dalam mengatur tempat duduk siswa agar dibuat bervariasi. Dari formasi tradisional (bangku dan meja berbaris luru dan rapi) menjadi berbagai formasi lain seperti model auditorum, cevron, huruf U, meja pertemuan, konferensi, pengelompokkan terpisah, tempat kerja, kelompok untuk kelompok, lingkaran, periferal maupun model-model lain.  Ya..browsing lah di google..akan banyak sekali ditemukan penataan interior ruang kelas yang indah, nyaman dan menyenangkan.

Ketiga, selalu mengajar dengan strategi yang berbeda.
Kalau seorang guru mengajar dengan metode yang tetap sepanjang waktu, misalnya ceramah seumur-umur bisa dipastikan otak reptil tidak akan terpuaskan. Ketimbang seorang guru menjelaskan dengan panjang lebar proses peredaran darah, akan lebih menarik jika guru tersebut menyajikan gambar atau video mengenai proses peredaran darah pada manusia. Dan jauh lebih memuaskan alias memanjakan otak reptil siswanya, jika siswa diajak membedah seekor tikus untuk dipelajari sistem peredaran darahnya.

Ada seorang teman guru matematikan, sebut namanya Bu Windi, yang mengajarkan perbandingan sebanding dan berbanding terbalik melalui permainan jual beli dan juga menyuruh siswanya mengukur hubungan jarak dengan waktu yang ditempuh temannya.

Bagaimana?
Siap untuk memanjakan otak reptil siswa sehingga ruang kelas pun akan menjadi hidup. Semarak penuh dengan keriangan. Sehingga SELERA BELAJAR dan proses BERPIKIR siswa pun akan menjadi optimal.

Sumber bacaan :
Chatib, Munif. 2015. Kelasnya Manusia : Memaksimalkan Fungsi Otak Belajar dengan Manajemen Display Kelas. Bandung : Kaifa





Share:

Selasa, 30 Januari 2018

Menjadikan Sekolah Tanpa Kekerasan. Mungkinkah?

Menjadikan sekolah tanpa kekerasan. Mungkinkah?

Membaca judul di atas mungkin kita akan bertanya-tanya. Apa bukan berarti memaafkan segala pelanggaran yang dilakukan siswa? Apakah seorang guru dilarang keras kepada siswa-siswanya? Bayangkan kita menghadapi siswa-siswa dengan kelakuan sebagai berikut.
1. Andi ketahuan membolos bersama-sama gangnya. Bukan hanya sekali dua kali tetapi beberapa kali.
2. Slamet sudah semingguan tidak berangkat sekolah. Alasannya takut dengan  guru TIK-nya yang memberikan banyak tugas.

3. Maria mengadu ke guru BK karena diolok- olok temannya.
4. Maman dilaporkan karena dianggap melakukan pemalakan terhadap teman-temannya.
5. Toni ketahuan membawa HP ke sekolah tanpa ijin. Dan celakanya di dalam HP tersebut ditemukan konten-konten yang tidak pantas.

Kalau dilanjutkan masih 1001 persoalan yang dihadapi sekolah tiap hari. Apakah kita (dalam hal ini guru) senantiasa bersikap lembut atau kadangkala harus bersikap tegas bahkan cenderung kasar terhadap siswa-siswanya.

Dalam tulisan ini, akan diketengahkan mengenai konsep sekolah tanpa kekerasan. Bahkan konsep sekolah tanpa hukuman. Bagaimana mungkin? Marilah kita kaji perlahan-lahan.

Menjadikan Sekolah Sebagai Sahabat Siswa
Seorang sahabat tidak akan menyakiti. Seorang sahabat akan mengingatkan ketika temannya melakukan kesalahan. Boleh jadi seorang sahabat akan berkata keras, tetapi tidak akan bersikap kasar dia tidak akan meninggalkan. Seorang sahabat akan selalu ditunggu dan kita akan nyaman ketika bersamanya.

Keadaan berbeda ketika melihat seorang anak yang bergegas meninggalkan rumahnya di pagi hari dan kemudian segera meninggalkan sekolah sesaat setelah bel berbunyi. Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa anak tersebut tidak menjadikan rumah sebagai tempat yang nyaman. Demikian juga sekolah bukan sebagai tempat yang bersahabat bagi mereka. Kebahagiann mereka tidak berada di antara kedua tempat tersebut.  Hal ini sangat disayangkan, mengingat dari 24 jam waktu mereka, hampir sepertiganya dihabiskan di lingkungan sekolah. Eksistensi mereka di sekolah diharapkan tidak sekedar raga yang dibuktika dengan catatan absensi namun diharapkan sebagai eksistensi batin yang akan diiringi dengan perasaan nyaman dan 'butuh' sekolah.

Demikian juga dari sudut pandang sebaliknya, suatu sekolah tak seharusnya hanya tampak sebagai sebuah benda mati berupa bangunan besar tempat belajar. Dari setiap sudut ruang, dan sudut pandang manapun bangunan yang bernama sekolah harus "berjiwa" . Siapakah yang dapat menghadirkan jiwa bagi sekolah?


Share:

Senin, 29 Januari 2018

Membangun Brand SMP Negeri 3 Kutasari

Membangun Brand SMP Negeri 3 Kutasari

Latar Belakang
Brand atau merk adalah nama. Merk ini membawa harapan bagi pemiliknya. Setidaknya ada 3 jenis merk berdasarkan kepemilikannya. Pertama, merek pribadi/perseorangan. Kedua, merek berbadan hukum. Ketiga, merek kolektif/kelompok.

Kenapa sih memakai merk? Seperti nama, merk ini sebagai tanda pengenal. Agar dikenal tentunya. Semisal mendengar kata SMP Negeri 3 Kutasari maka terbayang sebauh sekolah yang sejuk. Berada di desa Karangjengkol, di ujung barat kota Purbalingga dengan jarak kurang lebih 15 km dari alun-alun kota. Jadi ketika menginginkan sekolah di dekat alun-alun ya jangan berharap sekolah di SMP Negeri 3 Purbalingga.

SMP Negeri 3 Kutasari membutuhkan sebuah brand. Brand yang membedakan dari sekolah lain. Dengan berbagai masalah yang dihadapi, butuh brand atau merek yang bisa menjadi solusi. Kok bisa brand atau merk itu sebagai solusi. Coba bayangkan, Anda menghendaki sebuah sabun yang bisa menghilangkan gatal-gatal di kulit. Kira-kira sabun apa yang dipakai? Lux, asepso, lifebouy, dettol, nouvo atau sabun yang lain. Ketika Anda membutuhkan handphone yang murah dengan fasilitas yang paling update kira-kira merk apa yang akan anda beli? Ya begitu kan.

Tantangan yang dihadapi SMP Negeri 3 Kutasari semakin berat. Dengan perkembangan siswa-siswa yang makin kekinian tentunya sekolah harus makin berbenah. Tuntutan masyarakat agar sekolah memberikan layanan yang baik juga menjadi tantangan sendiri. Sedangkan dari internal sendiri, harus mau menjawab apakah SMP Negeri 3 Kutasarai akan menjadi sekolah yang biasa-biasa saja atau akan menjadi sekolah dambaan masyarakat.

Ringkasnya, brand atau merk SMP Negeri 3 Kutasari diperlukan untuk menjadikan sekolah ini lebih kompetitif dan menjadikan sebagai senjata untuk bersaing dengan sekolah lain. Serta brand atau merk ini akan menjadi kebanggaan warga sekolah.

Terkait dengan penerimaan siswa baru, promosi sekolah ini dapat dilakukan secara terus menerus melalui sosialiasi brand sekolah. Sebuah kekeliruan besar ketika promosi sekolah dilakukan hanya saat mau PPDB ataupun sekedar ikut-ikutan sekolah lain.

Bagaimana Implementasi Brand Sekolah
Branda atau merek bukan sekedar buat gagah-gagahan. Atau sekedar menjadi konsep yang di awang-awang. Brand ini harus diimplementasikan melalui berbagai cara.
Pertama, penataan ruang kelas. Tatalah ruang kelas sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Variasikan penataan ruang kelas secara berkala. Langkah ini perlakukan agar suasana pembelajaran tetap fresh/segar, tingkat stress siswa dan guru berkurang.
Kedua, proses pembelajaran nyaman dan menyenangkan. Bagi guru gunakan kata-kata yang santun selama pembelajaran (tentunya selalu santun dong di manapun), gunakan berbagai metode, gunakan pembelajaran yang berfokus kepada siswa, serta hindari mengeluarkan anak dari kelas.
Ketika, pemberian hukuman. Lakukan pemberian hukuman secara santun. Hindari menghukum dengan disertai kata-kata yang kasar/teriakan. Kendalikan emosi/rasa marah ketika hendak menentukan hukuman. Contoh alternatif hukuman : infaq, sedekah, menghapalkan asmaul husna, menghapalkan ayat-ayat Al-Qur'an, penghilangan hak, adanya tembok ratapan dan jenis hukuman lain.
Ketiga, penataan ruang perpustakaan, ruang ganti dan fasilitas lain sebagai wujud dari pelayanan prima, khususnya kepada siswa.


Selain itu, banyak hal bisa dilakukan sebagai bentuk implementasi brand sekolah. Misalnya, seragam guru atau siswa yang menjadi pembeda dari sekolah lain. Penggunaan seragam pramuka di hari sabtu oleh guru/karyawan disamping menggunakan seragam batik bebaspun bisa menjadi faktor pembeda. Brand atau merk ini juga dapar dilekatkan pada seragam, topi, desi dan berbagai atribut lain (stiker, tas, buletin, majalah sekolah, buku tulis, buku harian dan sebagainya).

Di samping itu jangan lupakan media, yang dalam hal ini bisa dilakukan dengan mengelola majalah dinding secara lebih tertib dan terbuka. Misalnya dengan memberitakan setiap kejadian di sekolah. Bukan hal tabulah, ketika perselisihan/masalah antar siswa ditulisan baik sebagai berita aktual maupun feature.

Perpustakaan yang umumnya dibuka sampai batas bel, cobalah sekarang dibuka sampai sore. Karena sore hari (setelah pulang sekolah) siswa lebih longgar waktunya untuk mengerjakan berbagai hal. Gunakan perpusatkaan ini sebagai tempat belajar yang dilengkapi dengan berbagai buku, majalah, surat kabar, buletin dan sumber belajar lain. Jangan lupa sediakan jaringan internet buat perpustakaan. Jadikan juga perpustakaan sebagai sumber daya digital.

Jadi, apa brand  SMP Negeri 3 Kutasari atau yang dikenal dengan spentriku atau spenthreeku ini?
Mari kita renungi bareng-bareng. Intinya bangunlah reputasi SMP Negeri 3 Kutasari ini sebagai sekolah yang dicintai oleh siswa, guru, karyawan, orang tua, dan masyarakat.

Good is not enough...
baik tidaklah cukup ketika tidak bisa mempengaruhi


Share:

EFEK DOMINO

EFEK DOMINO

Oleh : Ika Rini


Teori domino adalah teori yang didengungkan sejak tahun 1950 an sampai tahun 1980 an. Suatu teori yang berspekulasi bahwa apabila suatu negara di suatu kawasan terkena pengaruh komunisme maka negara sekitar akan ikut dipengaruhi oleh komunisme melalui efek domino. Analoginya Jika satu baris domino dijatuhkan maka kartu domino sebelahnya aka ikut jatuh dan seterusnya peristiwa yang terjadi berikut sampai jatuhnya domino terakhir terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Sekarang efek domino tak lagi hanya berkaitan dengan komunisme. Semua hal kejadian atau peristiwa dipastikan memiliki efek  domino (baca : konsekuensi).

Sebagai contoh yang agak serius adalah peristiwa kenaikan harga BBM. Efek domino dari pristiwa kenaikan harga BBM bisa digambarkan sebagai brikut :
  1. BBM naik →biaya produksi naik →harga barang naik →daya beli menurun → banyak pabrik gulung tikar → pengangguran → kemiskinan → anak putus sekolah
  2. BBM naik →biaya produksi baju naik → harga baju naik → saya tak mampu beli baju baru → saya tidak modis lagi → suami ditakutkan melirik yang lain
  3. BBM naik → harga emas naik → harga cincin naik → Om Anjar tertunda meminang bunganya → kasihan oh kasihan (sssttt...yess!) 

Tiga contoh efek domino di atas biarlah dipikirkan oleh yang berkepentingan saja. Dengan memahami adanya efek domino, tentu akan membuat kita lebih berhati-hati lagi dalam mengambil keputusan apapun dalam hidup keseharian kita. Menentukan prioritas juga bisa berdasar efek domino yang dihasilkan. Sebagai contoh untuk  penentuan prioritas pekerjaan berikut ini :

  • Mengerjakan 14 kompetensi 
  • Mengerjakan Tagihan Cheklist 
  • Mengerjakan Program Sukses UN
  • Mengerjakan Administrasi Sekretaris UN 
  • Mengerjakan Tulisan Ini...

Tentukan efek domino dari kelima pekerjaan tersebut, pahami dan analisis bahwa pekerjaan dengan efek domino terpanjang adalah pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Namun, pekerjaan dengan efek terpendek ternyata pekerjaan yang paling menyenangkan. Bagaimana? Kalau masih bingung menentukan prioritas mari bersenang-senang saja...


Share:

About

Tentang Spentriku

Spentriku adalah nama keren dari SMP Negeri 3 Kutasari. SMP Negeri 3 Kutasari ini terletak di Jalan Raya Karangjengkol - Tobong Kutasari Purbalingga.