Majalah Dinding

Setiap kelas berkewajiban mengembangkan majalah dinding dibantu oleh wali kelasnya.

Pelatihan Penulisan Puisi

Penulisan puisi bersama Mas Agustav sebagai bagian dari GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Baca Buku 15 menit

Baca buku 15 menit sebelum mata pelajaran sebagai bagian dari GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Pelatihan Jurnalistik

Pelatihan Jurnalistik bersama Mas Ryan Rahman (Wartawan Suara Merdeka).

Pojok Baca

Adanya pojok baca di tiap kelas untuk mendukung GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Tampilkan postingan dengan label Karya Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Guru. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Diam

DIAM KU
Oleh Choirul Rahmawati

Diamku bukan aku tak peduli
Diamku bukan aku tidak mau mengerti
Diamku hanya ingin membatasi
Diamku hanya aku ingin sendiri

Diamku bisa satu arti
Diamku bisa berjuta narasi
Diamku bisa jadi salah arti
Diamku bisa jadi koreksi diri

Dalam diam ada keraguan
Dalam diam ada kegundahan
Dalam diam ada ketenangan

#pada sebuah perjalanan 27/02/18#




Share:

Hujan, Lapar dan Kehilangan

Hujan, Lapar dan Kehilangan


Tepat saat hujan turun siang itu
sebagian orang berhamburan  mencari tempat berteduh
pantulan sisa sinar matahari
belum mampu menjelma pelangi
aku masih tetap berdiri, tegak di atas dua kaki
lengkap dengan kegalauan yang kian jelas meretas mimpi

Tepat saat air hujan mulai membasahi muka
air yang lama tergenang di sudut mata
mulai menetes satu demi satu bergantian
menjadi rancu manakah hujan manakah tangisan

Aku selalu mendamba hujan
meski hujan kian menambah lapar
tapi mampu mendinginkan lara-lara
yang membuatku tersungkur terkapar
tentang kisah yang tak pernah sudah
tentang mimpi yang terus bersiteru tak pernah usai
tentang harapan yang terlampau jauh dari kenyataan

Pada hujan aku hantarkan
sebuah jiwa yang kosong harapan
yang melemah dalam tawa yang selalu kupertontonkan dengan pongah
yang melemah dalam kata pembelaan yang kian terengah
yang melemah dalam rasa yang kian lama kian jengah

Pada hujan aku adukan
sebuah lara kehilangan
yang tak pernah mampu kuceritakan
bahkan pada diri sendiri
pun tak mampu kubuat pengakuan










Share:

Kamis, 01 Februari 2018

Yogyakarta (Tanpa Judul)

larva tour
Larva Tour

Yogyakarta (Tanpa Judul)
(Cerita Laporan Perjalanan Wisata Studi Aku, Kamu, Kita dan Anak-anak Spentriku)
Oleh : Anjar Subekti, S.Pd

Mohon maaf apabila terdapat kesamaan nama tokoh, watak, dan tempat. Semata-mata karena disengaja, apa adanya, serta bukan fiktif belaka.

Sepinya malam bukan menjadi halangan untuk menyusuri jalanan menuju ke sekolah tempat aku mengabdikan diri, yang letaknya cukup dekat dari rumah orang tuaku, hanya terpaut satu desa tepatnya di Desa Karangjengkol. Walaupun hampir setiap hari melewati jalannya, agaknya berbeda karena kali ini aku melewatinya pada malam hari yang tentu akan terasa lebih dingin. Menaiki motor Honda Vario hitam, pemberian dari bapak yang dibelikan pada saat dulu aku pertama masuk kuliah, dengan kecepatan yang cukup sedang, aku diantar oleh adik laki-laki. Bukan karena tidak berani sendirian, tetapi kali ini aku sengaja untuk tidak membawa motor.

Pernahkah kamu berkunjung ke Desa Karangjengkol? Desa yang terletak diujung sebelah utara Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga. Bisa dibilang terletak di kaki Gunung Slamet, siang hari pun terasa dingin, apalagi jika malam hari?Kulihat jam tangan yang masih tergolong baru karena belum lama aku membelinya, waktu menunjukan pukul 21.55 WIB ketika tiba di SMP N 3 Kutasari (baca: Spentriku). Disambut sorotan cahaya lampu yang cukup terang, kubuka gerbang sekolah yang ternyata tidak digembok (baca: kunci). Mungkin Pak Dahlan, yang tidak lain adalah seorang yang bertugas menjaga sekolah, sengaja tidak mengunci gerbangnya karena tahu jika anak-anak kelas VIII sebentar lagi akan datang. Lah, untuk apa malam-malam yang dingin kok pergi ke sekolah? Ya... Sesuai rencana, malam ini siswa kelas VIII akan berangkat ke kota Yogyakarta, kotanya pelajar.

Bagi anak-anak yang sudah pernah ke Jogja, tidaklah asing pengetahuan akan tempat-tempat wisata yang ada di sana. Kali ini siswa kelas VIII akan melaksanakan studi wisata, menuju ke kota Jogja dan sekitarnya. Yah... tentu mereka semua merasakan senang, tak terkecuali yang sudah pernah ke Jogja. Malam semakin larut, ketika para siswa mulai berdatangan diantar oleh orang tuanya masing-masing. Dijadwalkan mereka akan berangkat dari sekolah menuju ke tempat studi wisata pukul 23.30 WIB. Didampingi oleh bapak dan ibu guru, termasuk diriku.

Aku mencoba mendekati anak-anak, menanyakan kesiapan mereka mengikuti studi wisata. “Udah nggak sabar pak, nyampai di Jogja”. Jawab salah satu dari mereka. Ya... antusias mereka memang cukup tinggi, apalagi jika kaitannya dengan berwisata. Hingga pada akhirnya, jam menunjukan pukul 23.20 mendekati tengah malam, dua armada Bus Lestari Muda tiba di depan sekolahku tercinta. Jalan terasa penuh sesak karena orangtua dan wali murid yang mengantar anak-anaknya masih menunggu. Ada juga yang berada di area dalam sekolah, tetapi tak sedikit pula yang berada di pinggir jalan dan di area gerbang sekolah. Mungkin mereka tidak akan beranjak sebelum bus yang membawa anak-anaknya pergi. Ya... benar saja, sekitar jam 12 kurang 15 menit malam ketika bus mulai melaju sesuai tujuannya, mereka pun yang searah dengan lajunya bus mengiringi di belakangnya, tetapi tidak sampai ke Jogja, hanya memastikan saja kalau anaknya sudah berangkat.

Aku bersama ke tujuh bapak dan ibu guru yang lain, juga mengikuti di belakang bus, kami menaiki mobil jenis Elf milik Pak Kuswanto yang beliau juga sebagai sopirnya. Kenapa kami tidak ikut sekalian di bus bersama anak-anak? Jawabannya karena sudah tidak tersisa kursi yang kosong. Ketika bus sudah mulai melewati jalanan kota, kecepatan laju bus pun kian meninggi. Hingga kami semakin tertinggal cukup jauh di belakangnya. Kami yang berdelapan menaiki mobil, kehangatan pun mulai terasa dengan saling melucu ataupun saling meledek satu sama lain, meskipun ada juga yang memilih untuk tidur. Sedang hangatnya kelucuan yang diadakan dalam mobil, tiba-tiba hal yang tak diinginkan pun terjadi. Dikarenakan jalanan yang berlubang (baca: rusak) dan mungkin karena kurang kehati-hatian, hingga tak disangka ban belakang sebelah kiri meletus, tepat di daerah Rowokele Kebumen. Kamipun terdiam sejenak merenungi kejadian tersebut, aku mengumpat dalam hati “kenapa bannya harus meletus?”. Seperti tidak terima dengan yang sedang kami alami.

Mobilpun menepi mencari tempat yang sekiranya aman untuk mengganti ban. Peralatan bengkel mulai dicari - dipersiapkan; dongkrak, kunci-kunci dll. Kami saling membantu, ada yang megang senter hp guna menerangi penggantian bannya, ada yang masang dongkrak, dan akupun ikut membantu melepas baut yang mengikat ban. Mobil kembali melaju setelah kurang lebih sekitar 45 menit mengganti ban, kok lama juga ya? Ya begitulah, karena kami lumayan mengeluarkan tenaga hingga butuh istirahat setelah mengganti ban. Aku dapat menebak kalau rombongan bus yang membawa siswa/siswi pasti terus melaju, hingga semakin jauh jaraknya dengan mobil yang kami tumpangi. Ya sudahlah, mari bergembira kembali di dalam mobil.

Di saat waktu kian menuju ke dini hari, rasa kantuk mulai terasa, hingga aku memilih tuk memejamkan mata, kami atur sedemikian rupa, gantian jangan sampai semua tertidur, maksudnya biar pengemudi (baca: sopir) tetap ada yang menemani tuk sekedar ngobrol. Sayup-sayup terdengar suara adzan shubuh dikumandangkan, hingga Pak Kus memutuskan untuk berhenti di sebuah masjid guna melaksanakan sholat shubuh. Kami semua turun dari mobil, meskipun mata masih terasa berat.

Jam menunjukan pukul 04.45 pagi saat kami kembali menikmati perjalanan, sebelumnya terjadi percakapan antara Pak Kus dengan tukang parkir, menanyakan kepastian jarak yang jika melihat google maps sudah lumayan dekat dengan tujuan wisata studi yang pertama. Sementara rombongan bus yang membawa anak-anak dan guru lainnya sudah sampai di Merapi Jeep Lava Tour. Ya itulah tujuan pertama perjalanan kami. Sebelum nanti ada tujuan kedua, ketiga dan seterusnya. Malam mulai berganti terang, mobilpun kian melaju dengan ritme yang menegangkan. Loh ada apa? Ternyata tanpa disadari kampas rem mobilnya habis, sehingga ketika mobil ngerem harus selalu pakai rem tangan. Cukup berbahaya, tetapi Pak Kus termasuk handal dalam mengendarai mobilnya, sehingga tak begitu menjadi masalah, kami pun tetap bergembira.

Koordinasi lewat medsos terus dilakukan dengan guru lain yang sudah tiba dilokasi, ternyata mobil yang kami tumpangi sudah kian dekat dengan lokasinya. Pemandangan mobil-mobil Jeep dan Gunung Merapi mulai nampak, ya kita sudah tiba di parkiran pintu masuk Merapi Jeep Adventure Kedungsriti. Setibanya kami langsung disambut oleh Crew MJAK, dan diajak untuk menaiki mobil Jeep yang sudah disediakan. Sementara anak-anak dan guru yang sudah sampai duluan, juga sudah mulai ber-offroad ria naik Jeep menyusuri jalanan terjal, berkelok-kelok menuju kaki Gunung Merapi. Jujur ini pengalaman pertamaku naik Jeep, yang katanya dari kecil semacam didoktrin kalau mobil Jeep berarti mobil penculik, dan sampai sekarang aku tak tau kenapanya. Tapi nyatanya aku dan guru yang lain tidak diculik, berarti doktrinnya salah. Hahaha.... tertawaku di dalam hati.
Suasana alam pegunungan terasa begitu hangat, mencairkan hati yang beku, dan yang pasti aku menjadi berpengalaman naik Jeep. Sungguh bahagia, ya memang harus bahagia. Namanya juga berwisata, pasti membahagiakan. Pengemudi Jeep terlihat sudah begitu handal, terbukti walaupun jalanan terjal, tetapi kami yang menaikinya tetap terasa nyaman.Belum lama kita menikmati perjalanan, Jeep berhenti, di sampingnya terdapat makam-makam, ternyata ini makam para korban erupsi Merapi 2010 lalu. “Semoga di tempatkan di tempat yang terbaik oleh-Nya, aamiin”. Doaku dalam hati.

Spot pertama yang bisa buat ajang selfie yaitu pemandangan Batu Alien peninggalan bekas erupsi, dipadu dengan pemandangan alam yang melimpah berupa pasir dan bebatuan, serta pemandangan besarnya Gunung Merapi. Ya... Kita memang Sedang berada di kaki gunung. Setelah puas berfoto ria, pengemudi Jeep mengajak kami mengunjungi spot berikutnya. Bunker Kaliadem merupakan tempat berlindung bagi warga dari luapan banjir lahar Merapi atau biasa disebut Wedus Gembel. Tetapi konon katanya Bunker ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya, ketika erupsi besar 8 tahun lalu, bunker ini terkubur material Merapi, ada beberapa warga yang ikut terkubur di dalamnya, sungguh mengerikan. Pasca erupsi, bunker ini dapat ditemukan kembali walaupun butuh waktu cukup lama dan alat berat untuk mengeruk material tebal yang menguburnya.

Aku mencoba menanyakan seputar Merapi pada pengemudi Jeep, “bekas rumah mbah Marijan di mana mas? Apa ikut tertimbun material Merapi juga?” tanyaku. “kita tidak melewatinya mas, ya mbah Marijan juga ikut jadi korban, padahal beliau juru kunci Merapi, sekarang juru kunci turun ke anaknya” jawabnya. Jika melihat dampaknya, aku tidak bisa membayangkan begitu luar  biasanya luapan lahar Merapi saat itu, walaupun sekarang sudah membawa keberkahan dengan benyaknya wisatawan yang berkunjung. Tuhan Maha Segalanya, jika  berkehendak terjadi maka terjadilah, tak ada yang bisa menahannya, dan beserta kesulitan akan ada kemudahan.

Matahari mulai meninggi, disaat Jeep membawa kami ke sebuah rumah makan, ya ternyata kami semua belum sarapan. Tempat makan ini menjadi tempat terakhir kami di sekitar Merapi, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan beserta anak-anak Spentriku menuju ke Candi Prambanan, salah satu situs warisan budaya yang mendunia. Sementara Pak Kus memilih untuk membawa mobilnya ke bengkel, maklumlah memang harus diservis. Di dalam komplek candi, aku ikut bersama anak-anak, tetapi tidak sampai naik ke dalam candi, cuaca cukup panas menjadi salah satu alasan kenapa aku tidak naik ke dalam candi, anak-anak kembali dibebaskan untuk mengeksplor (baca: mempelajari) apa yang mereka lihat dan amati. Dari panitia membatasi waktu di Candi Prambanan sampai jam setengah satu siang, cukup lama bisa sambil beristirahat. Tak lupa kesempatan yang ada aku manfaatkan tuk berfoto, ya memang foto itu penting sekali, guna mengabadikan momen-momen yang tak terlupakan.

Puas berfoto ria di dalam komplek Candi Prambanan, anak-anak Spentriku mulai terlihat kelelahan, “panas, laper pak” ungkap salah satu dari mereka. Ya akupun merasa demikian. Pak Afik, guru Olahraga yang sekaligus membidangi Kesiswaan Spentriku mengomando anak-anak agar berkumpul di dekat parkiran bus guna istirahat dan makan siang. Dengan lesehan tikar, kami dan anak-anakpun menikmati udara siang Prambanan, sambil menyantap makan siang. Jam menunjukan pukul setengah satu, aku kepikiran ternyata belum menunaikan kewajiban Sholat Dzuhur. “Sholat ke mushola yuk!” ajak Pak Arsyad, yang tak lain adalah Kepala Sekolah Spentriku. (Sedikit cerita, beliau dikatakan mirip sosok dokter oleh salah satu ibu guru senior Spentriku, lucu bukan? Heuheu). Tapi kemudian Pak Afik berkata, “sholatnya di musium Dirgantara saja setelah ini”.

Tepat jam 1 siang, kami semua melanjutkan perjalanan, masih di Daerah Istimewa Yogyakarta, kotanya pelajar, yang selalu dan tetap istimewa. Kali ini menuju ke Musium Dirgantara, menambah pengetahuan tentang dunia pesawat dan penerbangan. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 20 menit kamipun sampai di musium. Tak beda dengan musium-musium pada umumnya, di sini ramai pengunjung yang kebanyakan para pelajar. Dengan antusias yang cukup tinggi, Anak-anak semuanya langsung menuju ke dalam musium. Durasi di sini, kurang lebih satu jam, cukup lah bagi anak-anak menambah ilmunya.

Lelah mulai terasa hinggap dalam tubuhku, dan juga anak-anak yang terlihat tak bisa menyembunyikan lelahnya. Setelah dirasa cukup berada di Musium Dirgantara, sekitar jam setengah 3 sore bus  dan mobil Elf kembali melaju membawa kami menuju Pantai Parangtritis (baca: Paris) hehehe. Dalam rundown acara, kita semua di Parangtritis dari sore hingga esok hari, “yes akhirnya bisa istirahat menyelonjorkan badan”, sorak ku dalam hati. Setibanya di pantai yang menurutku sudah tidak begitu terawat karena banyak sampah berserakan tak beraturan, dari pihak Ayunda Tour yang sebagai Biro perjalanan langsung mencarikan tempat menginap (baca: Losmen) untuk kami semua. Ternyata tempat menginap kami berpencar, karena tak mungkin semua ditampung dalam satu tempat. Aku bersama Mbah Soleh, dan Pak Budisan menemani siswa laki-laki, tepatnya di Losmen Parikesit. Sedangkan siswa perempuan didampingi oleh bapak-ibu guru yang lain.

Losmen ini lumayan nyaman untuk beristirahat, tapi termasuk paling jauh jaraknya dengan pantai, dibanding losmen yang ditempati anak-anak perempuan dan bapak ibu guru yang lain. Setelah cukup beristirahat, membersihkan diri, dan melaksanakan kewajiban sholat, aku mengikuti anak-anak yang ternyata sudah mendahului pergi tuk bermain dipantai. Dengan berjalan kaki, aku bersama Mbah Soleh dan Pak Budisan menuju ke pantai tepat jam 5 sore, sambil ngobrol menikmati langkah demi langkah. Walaupun sore hari, tetapi tetap ramai pengunjung. Tak lupa, dengan menggunakan Hape Xiaomi (karna tak punya kamera Canon) aku minta tolong pada Pak Budisan untuk sekedar mengabadikan momen di sini, lumayan bagus pemandangan laut, pasir dipadu dengan sunset walaupun tak terlihat tajam. Hari kian petang, hingga kami pun memutuskan kembali ke losmen.

Malam hari suasana di sini cukup asyik untuk ngobrol hangat, bareng Pak Budisan, Mbah Soleh dan kita kedatangan Pak Arsyad yang rela berjalan kaki mendatangi losmen yang aku tempati. Ditemani suara ombak yang terdengar bergemuruh, sambil tak lupa mengawasi anak-anak agar tetap menjaga tata krama dan tidak seenaknya sendiri. Tak disangka, hujan turun lumayan deras menambah suasana hangat, hingga tak sadar sudah jam 10 malam. “Aku balik nang losmenku ya”, kata Pak Arsyad melangkahkan kaki kembali ke losmen yang beliau tempati. Setelahnya, aku memutuskan untuk tidur karena sadar tubuh ini butuh istirahat. Yah... sekasur bertiga pun tak jadi masalah.

Terbangun dari tidur ketika kulihat Mbah Soleh sedang bersiap tuk melaksakan Subuh, akupun segera bangkit menyadarkan diri. Ya... ternyata sudah jam setengah 5 pagi. Setelah melaksanakan Subuh, raga ini tertarik kembali tuk menyaksikan pemandangan pantai pagi hari. Ternyata pak Arsyad, sudah mengomando di grup Whatsapp agar para guru beserta karyawan menemani siswa yang lagi-lagi sudah lebih dulu berada di pantai. Meskipun hari masih terlalu dini, pantai ramai pengunjung yang sebagian besar wisatawan luar daerah. Kali ini saya mengajak Mbah Soleh dan Pak Budisan untuk mencoba motor roda empat yang memang disediakan tuk disewa. Ada yang ukuran sedang, ada juga yang ukuran besar. Kita bertiga iuran tuk menyewanya, maksud hati ingin menyewa yang besar tetapi harga sewanya lumayan mahal menurutku, akhirnya mencoba yang ukuran sedang, “lumayanlah ngobatin rasa penasaran”kataku. Kita diberi waktu 20 menit untuk sekali sewa, aku mencoba giliran pertama, dilanjut oleh Pak Budisan, lalu Mbah Soleh pun tak mau ketinggalan mencobanya. Sungguh bahagia aku melihatnya.

Puas berada di Parangtritis, kami bersiap tuk melanjutkan wisata studi ke tempat berikutnya setelah mandi dan sarapan. Kulihat jam setengah 8 pagi, ketika bus dan mobil Elf mulai melaju menuju ke Taman Pintar Yogyakarta. Seperti biasa aku ikut menumpang mobil, dan kami kembali bernyanyi bersama. Bahkan diabadikan dalam  video pendek, seru bukan? Jaraknya tak terlalu jauh, sekitar 40 menit dari sini. Sebelum sampai di Taman Pintar,  jalanan ramai hingga bus yang membawa anak-anak cukup lama untuk menentukan tempat brenti (baca: parkir). Aku yang menaiki mobil, tiba lebih dulu, hingga ada waktu tuk sekedar foto-foto di area depan taman pintar. Setibanya di sini, anak-anak Spentriku cukup antusias untuk segera masuk ke dalam gedung taman pintar, namanya taman pintar pastinya bikin kita pintar, ya kan?

Matahari mulai terasa kehadirannya, tanpa sadar jam sudah setengah 11 siang ketika kami keluar dari taman pintar. Setelah ini melanjutkan untuk mencari oleh-oleh khas Jogja, yah... Malioboro menjadi tempat terakhir kami beserta anak-anak berada Kota Pelajar. Anak-anak Spentriku dibebaskan untuk memilih sendiri apa yang ingin dibeli. Aku diajak untuk menemani Pak Afik beserta Pak Indra, berjalan dengan langkah cukup cepat menuju ke Malioboro, pemandangan pedagang sekaligus dagangannya terlihat di sana-sini. Bakpia dan kaos ala Jogja aku rasa cukup untuk oleh-oleh. Begitupun dengan Pak Indra dan Pak Afik kurang lebih oleh-oleh yang dibeli sama. Bedanya adalah untuk siapa oleh-oleh itu diberikan nantinya, secara mereka kan sudah punya istri bahkan Pak Afik sudah punya Anak perempuan. Loh kok aku jadi terbawa perasaan (baca: baper) ya? Ah sudahlah, tak apa itu boleh-boleh saja.

Kulihat jam tanganku, ternyata sudah jam 2 siang ketika kami semua diminta untuk kembali menuju kendaraan untuk makan siang. Sebelumnya kami menyempatkan sholat Dzuhur terlebih dahulu, dilanjutkan makan. Puas, lelah, namun tetap gembira dari hari Jumat malam hingga sekarang sudah hari minggu (baca: Ahad). Tiba saatnya untuk kami meninggalkan Jogjakarta, kembali ke Purbalingga. Ya... sejauh apapun kita pergi, pasti akan kembali ke tempat di mana kita tinggal dan berasal (kalimat ini sungguh dalam maknanya). Tak lupa cerita ini aku tutup dengan ucapan; “Selamat tinggal Jogja, kau akan tetap istimewa, semoga kita bisa bertemu lagi dengan cerita menarik lainnya”.
Share:

Rabu, 31 Januari 2018

Teman Maya

Sumber : http://heartofwisdom.com/images/nl/friends/frdcl1f.gif

TEMAN MAYA

Oleh Arsyad R

Malam minggu adalah malam yang ditunggu-tunggu Maya. Karena hanya pada malam itu, dia diijinkan untuk main internet. Tentu saja orang tuanya sekali-kali menghampirinya dan memperingatkan kalau sudah malam.

Irma, adalah salah satu teman yang dikenalnya lewat facebook. Kebetulan hobi mereka juga sama, yaitu menulis. Persahabatan keduanya makin dekat ketika keduanya sempat bertemu pada lomba menulis cerpen antar sekolah di kabupaten. Persahabatan mereka terus berlanjut, meski lewat internet.

Sudah beberapa minggu ini, Irma tidak pernah terlihat online. Ini adalah minggu yang keempat, Maya tidak bertemu dengannya. Pesan maupun komentar yang dikirimnya tidak pernah dibalas. Nomor handphone yang tertulis di profilnya juga tidak aktif.

Maya bertanya-tanya dalam hati, “Ada apa dengannya?” Apakah dia marah kepadaku.” Malam itu, belum ada jam 8 malam, Maya sudah mematikan komputernya dan ikut duduk-duduk bersama orang tuanya di ruang keluarga.

Melihat wajah Maya yang kusut, Pak Argo, ayahnya bertanya.
“Kamu kenapa, gak biasanya jam segini sudah selesai main internetannya.”
“Malas Pak,” jawab Maya sekenanya.
“Kok malas sih, biasanya dipanggil-panggil saja kamu nggak mau nengok,” sambung Ibunya.
“Pasti ada masalah sama teman di facebook ya, ” ledek ayahnya sambil tersenyum. “Masa hanya gara-gara facebook kamu jadi murung begitu,”
“Bapak dan mamaku tersayang. Maya nggak ada apa-apa. Lagi males aja.”

Pak Argo dan istrinya saling berpandangan mata. Kemudian keduanya tertawa.
“Ya sudahlah. Sini nonton TV saja,” kata Ibunya dengan lembut.
“Nggaklah Bu. Maya mau tidur saja.”
“Kok tidur sih. Baru jam 8 . Coba kamu cerita deh, tentang temanmu,” kata Pak Argo sambil mengecilkan volume televisinya.
“Teman yang mana Pak.” Pura-pura Maya mengelak.
“Itu loh, teman internetmu. Yang katanya kamu pernah ketemu. Si Irma.”

Maya menghela napas dan terdiam.
“Pak, Bu boleh nggak kalau besok pagi kita mencari rumah Irma. Sudah sebulan Irma nggak pernah nongol. Maya kuatir dia kenapa-kenapa.”
“Buat apa sayang. Dia kan cuma kamu kenal di internet.” Ibunya menambahkan. “Emangnya kamu tahu alamatnya.”
“Pak Bu, Irma bukan sekedar teman di internet. Coba kalau gak ada dia. Pasti tiap malam minggu, Maya keluar malam. Maya kangen Bu? Pokoknya besok anterin. Maya punya alamatnya kok.” Mata Maya berkaca-kaca.

Kedua orang tuanya hanya saling berpandangan kebingungan. Maya kemudian lari menuju kamarnya dan mengunci diri.

Pagi harinya, tampak sebuah mobil menyusuri jalanan-jalanan pedesaan yang rusak. Jalan aspal yang banyak berlubang, membuat pengemudinya harus ekstra hati-hati. Sekali-kali mobil tersebut berhenti ketika ada mobil lain yang berpapasan. Di dalam mobil tampak ada Maya dan kedua orang tuanya.

Di sebuah pertigaan mereka berhenti. Maya turun dan menunjukkan alamat kepada seseorang yang kebetulan berada di situ.
“Kalau alamat ini masih jauh Mbak. Lurus saja, ikuti jalan ini, nanti melewati perkebunan yang sepi. Setelah perkebunan ada perempatan, belok kiri terus saja. Nanti ada sekolah baru. Tanya lagi di situ. Ya sekitar 40 menit dari sini”.
“Terima kasih Pak.”
“Iya, sama-sama. Hati-hati jalannya rusak.”

Mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Makin mendekati alamat tersebut, Irma merasa jantungnya makin berdebar-debar. Ibunya hanya tersenyum melihat putrinya itu. Setelah bertanya beberapa kali, sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup besar. Ketiganya turun.
Mereka memasuki halaman rumah yang cukup luas. Tiada kata-kata yang terucap dari ketiganya.

Hingga sampailah mereka di teras. Kelihatannya sepi. Lewat samping rumah, mereka ke belakang rumah. Juga tidak nampak ada orang di dalam. Mungkin hanya perlu menungu sebentar.

Lama menunggu tidak ada tanda-tanda penghuninya pulang. Tetangga yang kebetulan lewat hanya bilang, pagi-pagi sekali seluruh penghuninya pergi bersama-sama. Waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang. Perut mereka sudah mula keroncongan. Akhirnya pak Argo memutuskan untuk pulang dan berjanji pada Maya akan datang ke situ lagi minggu depan. Maya tersenyum getir, tak dapat menahan rasa kecewanya.

Tepat ketika mobil akan berjalan, Maya tiba-tiba berteriak.
“Pak, sebentar. Itu Irma di depan.”

Maya dengan cepat keluar dari mobilnya dan berlari menemui Irma yang berjalan bersama 3 orang lagi, tampaknya ayah dan saudaranya. Keduanya berpelukan. Dengan menahan rasa haru Irma kemudian bercerita. Ibunya baru saja meninggal sebulan yang lalu. Pagi ini dia, ayah, adik dan kakaknya baru membersihkan makam ibu mereka. Dan rasa sedihnya membuat dia kehilangan harapan.

Mendengar cerita temannya, Maya tak kuasa menahan rasa harunya. Maya berjanji akan sering main ke rumah Irma. Sebaliknya, kadang Irma dengan diantar ayah dan saudara-saudaranya main ke rumah Maya.
Purbalingga, 12 Maret 2012
Share:

Minggu, 28 Januari 2018

SEPI KU IBU

SEPI KU IBU
Oleh : Choirul Rahmawati, S.Pd

KALA HATI TERBALUT SEPI
KALA GUNDAH MENYELIMUTI DIRI
TERPAKU....
TERBAYANG....
SERAUT WAJAH YANG TERPATRI DIHATI

                        SOSOK YANG TINGGAL DIANGAN
                        SOSOK YANG TINGGAL KENANGAN
                        SOSOK YANG SELALU TERINDUKAN
                        SOSOK YANG TAK DAPAT TERHAPUSKAN

            SALAH KAH JIKA KU RINDU AKAN HADIRMU
            SEPERTI DAHULU....
            TEMPAT KU BERCERITA
            TEMPAT KU MENGADU
            TEMPAT KU BERBAGI

KALA SEPI MENYELIMUTI HATI
KU BICARA PADAMU IBU
WALAU DALAM ANGAN KU
HANYA TUK MERINGANKAN
APA YANG MENGGELAYUT DI JIWA

                       
Share:

Kibaran Merah Putih




    
KIBARAN MERAH PUTIH
Oleh : Choirul Rahmawati, S.Pd

IBU....
MENGAPA MERAH PUTIH
TANPA MATAHARI, BULAN BAHKAN...
TAK SATUPUN BINTANG
POLOS....

NAK...
MERAH BERARTI BERANI
MERAH...
 SEMERAH API SEMANGAT PERJUANGAN
YANG MEMBARA KALA ITU

MERAH...
SEMERAH DARAH YANG MENETES
BERLINANG  BAHKAN  MEMBANJIRI
PERSADA IBU PERTIWI

PUTIH BERARTI SUCI
PENDAHULU KITA ARTIKAN KATA
SUCI...
SESUCI PIKIRAN MEREKA
UNTUK RAIH SATU TUJUAN
MERDEKA....
UNTUK NEGRI TERCINTA

POLOS TANPA GAMBAR APAPUN
SEPOLOS HATI MEREKA
TANPA HARAP IMBALAN, PENGHORMATAN,
DAN TANDA JASA

WALAUPUN KINI MEREKA DIKENANG
DENGAN PENGHORMATAN SEBAGAI PAHLAWAN
DIBAWAH KIBARAN SANG MERAH PUTIH
YANG MELAMBAI DENGAN GAGAH PERWIRA
DI PERSADA IBU PERTIWI.....




                                                                        MM 27 SEPT 2017

Share:

JOGJA MY PETUALANG


    
JOGJA MY PETUALANG
(Sepenggal Kisah 2 Hari 1 Malam di Jogjakarta)
Oleh : Galih Prawindi Andikasari, S.Pd

Jalan berliku dan berkelok yang ku lalui untuk menuju sebuah tempat yang indah yang belum pernah aku kunjungi. Ketika itu sabtu dini hari. Aku sudah siap di tempat penjemputan yang sudah direncanakan. Tak lama rombongan bus dari Spentriku tiba di tempat penjemputan. Tanpa basa basi akupun naik dan disambut oleh teman-teman dan anak-anak yang sudah berada di dalam armada. Ada tiga rombongan kala itu 2 bus dan 1 mobil MPV, kita menyebutnya pasukan ELF (dibaca elef).
Malam cerah perjalananpun lancar, anak-anak tertidur pulas. Memang sih tidak semua tidur pulas, ada beberapa anak yang mabuk sampe tak berdaya. Tak berapa lama ku buka hape dan ku tengoklah whatsapp. Terkaget ketika baca di grup wa ada informasi bahwa ban pasukan ELF meletus di wilayah Rowokele Gombong Kebumen. Yang terpikirkan dalam benak saya kala itu adalah penumpang-penumpang di mobil itu. Kuteleponlah salah satu penumpang di mobil itu, beberapa kali kutelepon tidak ada jawaban. Ternyata nomor yang saya telepon speakernya mati. Tapi saya merasa lega karena pasukan ELF semua dalam keadaan baik-baik saja.
Perjalanan terus berlanjut dan pasukan ELF pun terus kita pantau sudah sampai di titik mana mereka berjalan. Pagi menjelang, rombongan bus kami sudah masuk Jalan Kaliurang dan berhenti di Daerah Pakem untuk kegiatan sholat subuh sambil menunggu pasukan ELF tiba bersama kami. Kurang lebih 30 menit kami berhenti, tapi tak kunjung ada tanda-tanda pasukan ELF akan tiba. Dari berita yang didapat pasukan ELF akan sampai di lokasi sekitar 30 menit lagi. Bus kamipun melaju menuju pendaratan pertama yaitu Wisata Lava Tour di Daerah Cangkringan. Kurang lebih pukul 6 kami sampai di lokasi. Di sana beberapa mobil Jeep yang di booking oleh biro kami sudah siap untuk mengantarkan kami berpetualang di wilayah yang tekena dampak erupsi gunung merapi pada tahun 2010. Sebelum petualangan dimulai saya dan beberapa teman guru dan anak-anak didik saya berfoto foto ria dengan berbagai pose bersama mobil Jeep yang akan kami tumpangi.
Banyak foto yang saya upload digrup wa Spenthreeku, dengan tujuan supaya pasukan ELF semangat untuk menyusul kami sampai ke lokasi. Petualangan pun dimulai meskipun pasukan ELF belum juga tiba. Mobil-mobil mulai menyalakan mesinnya. Tak terbayangkan olehku bahwa suara mobil itu akan menderu-deru seperti itu. Suaranya sangat bising dan memekakan telingaku. Mobil mulai melaju menuju lokasi pertama yaitu  House Of Memory. Awalnya mobil berjalan seperti biasa tak ada sesuatu yang aneh, sayapun mengeluarkan senjata saya dari dalam tas. Apakah senjata itu? Ya sebuah senjata yang menjadi andalan banyak orang ketika akan mengabadikan sesuatu. Senjata itu adalah HP. Maksud hati ingin mangabadikan pemandangan indah di sekeliling, jalan yang berbatu dan naik turun penuh tantangan melalui sebuah video. Kata orang jaman now biar kekinian dan seperti acara televisi My Trip My Adventure. Baru beberapa detik tiba-tiba sopir Jeep yang saya tumpangi menambah kecepatan sehingga adrenalin kami semua naik dan berteriak-teriak,  sampai-sampai video yang saya rekampun hasilnya amburadul. Semakin kami berteriak, malah  mas supir (aku menyebutnya mas supir karena masih muda) menginjak pedal gasnya semakin dalam. Hmmm sepertinya mas supir senang melihat kami berteriak-teriak ketakutan tapi senang.
Sepanjang perjalanan menuju pendaratan pertama di House Of Memory kami tak berhenti berteriak-teriak. Masuk lokasi pertama suasana yang saya rasakan saat itu agak-agak mistis, mungkin karena saya baru pertama kali ke sana. Sayapun mengelilingi dan melihat-lihat lokasi itu. Disana ada tulang hewan ternak yang masih utuh, sepeda motor, kursi, perabot rumah tangga, mesin-mesin dan lain-lainnya yang terkena Erupsi Merapi 2010. Pokoknya selfi-selfi, wefi-wefi tak ketinggalan kita lakukan. Lima belas menit kurang lebih kita berada di sana. Pemandu petualang, begitu aku menyebutnya, sudah memberi aba-aba kalo kita harus melanjutkan ke tempat berikutnya. Dalam benakku “huff harus menyiapkan energi lagi untuk berteriak-teriak sampai ke tempat berikutnya”. Kami naik Jeep lagi dan menyiapkan kekuatan biar bisa sampai di titik kedua.
Mobil berjalan beriringan, dan tak dinyana-nyana ternyata jeep melaju seperti biasa sehingga kami tidak perlu berteriak-teriak karena takut bahkan kami bisa leluasa berdiri diatas mobil jeep sambil menikmati pemandangan sekitar. Eh kemana pasukan ELF, sampai dititk kedua aku belum melihat rombongan pasukan ELF. Tapi akhirnya pasukan ELF datang ketika kami akan melanjutkan ke Banker Kaliadem titik terakhir yang kami tuju. Di situ Gunung Merapi semakin terlihat jelas dan dekat. Ketakjuban saya bertambah, betapa indahnya pemandangan di sekitar Merapi dan betapa sejuknya udara disana. Sepertinya udaranya masih sangat bersih. Cuma ada beberapa hal yang membuat saya bertanya tanya ketika sampai di Banker Kaliadem. Kebetulan untuk menuju Banker Kaliadem, saya melewati pasar dan di pasar itu dijual bebas Bunga Edelways. “Bukankah bunga itu bunga yang dilindungi?. kenapa bisa bunga itu dijual bebas?” Dalam benakku bertanya. Tapi tak sampai terpikirkan lama sudah berusaha ku lupakan.
Selesai dari sana kami kembali ke pangkalan. Sebelum mobil melaju saya minta sama mas sopir untuk tidak memacu Jeepnya kencang-kencang, karena saya tahu mobil akan melaju dengan kencang ketika turun. Saya melihat mobil-mobil lain seperti itu.  Mas supir menuruti apa yang kami inginkan sampai kami tiba di tempat makan untuk sarapan. Kami sarapan dengan menu yang sederhana tapi enak dan nikmat sekali.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan berikutnya yaitu Candi Prambanan. Disana tidak ada yang spesial buatku karena memang aku sudah beberapa kali kesana. Lepas dari Candi Prambanan kami menuju Museum Dirgantara. Di sana pasukan ELF sudah sudah menunggu sambil kelaparan karena belum dapat makan siang. Di Museum Dirgantarapun tidak ada hal yang luar biasa yang harus diceritakan. Paling ada beberapa anak yang sudah terlihat tak berdaya karena mabuk selama perjalanan.
Dua jam lamanya di Museum Dirgantara, perjalanan kami lanjutkan menuju penginapan di Paris alias Parangtritis. Ada hal yang menarik saat kami tiba di Paris (baca Parangtriris). Bayangan saya begitu sampai di Paris kami sudah bisa langsung turun dari bus dan menikmati kamar untuk istirahat. Ternyata kami harus menunggu beberapa lama karena hotel yang akan kami tempati tidak bisa satu lokasi, dengan alasan hotel penuh karena ini malam minggu. Tiga hotel yang kami tempati, meskipun beda hotel tapi jaraknya tidak berjauhan.  Ada kamar di lantai 2 ditawarkan kepada ibu-ibu guru. Kalo boleh saya tidak mau di lantai 2 yang naik tangga. Akhirnya kamar di pakai bapak ibu guru sementara saya dan ibu-ibu yang lain berharap dapat kamar di lantai 1. Tak lama saya dan ibu-ibu yang lain akhirnya diantar meunju ke kamar, tapi apa yang terjadi ternyata apa yang terjadi kami malah mendapatkan kamar di lantai tiga dan naik tangga sempit pula. Agak kaget saya ketika melihat kamarnya. Kalo boleh digambarkan kamarnya itu kurang layak untuk dijadikan tempat penginapan. Kunci tak ada, kipas angin rusak, kamar mandi kotor, air tidak lancar dan yang paling menakutkan adalah kelelawar beterbangan dengan asyiknya kesana kemari di teras kamar kami. Mau tidak mau kami menempati kamar yang sudah disiapkan.
Istirahat sejenak dan kamipun menuju pantai parang tritis mengawasi anak-anak yang asyik bermain pasir dan ombak laut yang saat itu cukup besar. Kebetulan saat itu saya bertemu dengan Mas Eka (Tour Leader Kami). Sayapu menyampaikan apa yang saya rasakan tentang kamar kita dan akhirnya Mas Eka berhasil mengusahakan kami untuk pindah kamar yang lebih baik dan di lantai 1.
Selepas magrib rombongan kami ada jadwal kegiatan makan malam. Dan setelah makan malam ada request dari ibu-ibu guru jika ingin pergi ke pusat perbelanjaan (baca ngemol). Akhirnya reques itu dikabulkan oleh salah satu bapak guru yang kala itu ikut mendampingi anak-anak study tour. Acara ngemolpun dimulai. Perjalanan dari penginapan menuju mol A  memang sangat jauh hampir 2 jam kami melaluinya saat itu diiringi oleh hujan. Sampai di mol A parkiran penuh kemudian kami melanjutkan sampai ke mol B dan di mol B untuk memarkirkan kendaraan saja antrinannya panjang dan kamipun turun di depan mol sebelum mobil sampai pada tempat parkir. Saat itu sudah pukul sembilan malam lewat, sementara mol tutup pukul 10 malam. Bisa dipastikan tak lama kami di mol. Tepat pukul 10 kamipun merencanakan pulang. Saya dan 1 bu guru yang lain mengikuti pak guru yang menemani kami ngemol turun ke based man untuk mengambil mobilnya. Dan apa yang terjadi ketika sampai Based man? Ternyata mobi yang kami naiki tidak ada terlihat di tempat mobil di parkiran. Kami mencari dari satu lantai based man ke lantai yang lain sampai hampir 3 kali. Wajah panik sudah mulai terlihat di raut muka pak guru yang mengantar kami. Dalam hati saya berfikir biarlah kita tunggu saja sampai mobil-mobil yang parkir di mol ini keluar semua pasti nanti mobil kita akan terlihat. Karena kalo akan di cari akan membutuhkan energi yang lebih banyak lagi dikarenakan tempat parkirnya yang sangat luas.
Tak lama kemudian terbesit pleh pak guru untuk kembali mengingat dan menyusuri jalan yang tadi dilalui ketika turun dari mobil dan menuju ke dalam mol. Saya mengikuti dari belakang, ketika pak guru menapak tilas perjalanan menuju mol. Dan tak lama kemudian akhirnya mobil yang kami naiki ketemu di salah satu sudut tempat parkir yang memang tidak bisa terlihat jelas jika kita tidak mengingatnya dimana kita meletakkan kendaraan kita saat parkir. Wajah lega terlihat jelas dan akhirnya kamipun kembali menuju pulang ke hotel tempat kami mengingat. Selama perjalan pulang mobil kami diiringi oleh hujan yang sangat lebat. Sampai sampai jalan dihadapan kami tak terlihat. Sampai di hotel sekitar pukul 00.30 malam. Dan kamipun menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.
Suara Adzan subuh terdengar tanda matahari sudah mulai terbit. Pagi itu saya memutuskan untuk tidak kepantai lagi menemani anak-anak karena kondisi tubuh yang sudah ngedrop dari awal sebelum saya melakukan perjalanan ke jogja. Saya lebih memilih membereskan barang bawaan yang ada di penginapan. Persipan melanjutkan perjalan berikutnya sudah hampir 100%. Anak-anak sudah siap menaiki bus, dan bapak ibu guru pendamping juga sudah siap lagi untuk mendampingi anak-anak melanjutkan perjalanan berikutnya. Kebetulan hari itu adalah hari terakhir kita berpetualang di kota pelajar. Petualangan terakhir adalah taman pintar, benteng vanderburg dan malioboro. Seharian kita berada dilokasi itu, karena kebetulan tempatnya sangat berdekatan.
Menjelang pulul 3 sore rombongan kami melanjutkan perjalanan menuju kota kita tercintah yaitu purbalingga. Tapi sebelum pulang sampai di purbalingga kami masih ada agenda terakhir yaitu makan malam di kebumen. Ada kejadian menyenangkan setelah makan malam ketika bus sudah berlajan beberapa saat. Tak disangka sangka, anak-anak yang dari awal berangkat terlihat kurang menikmati perjalanan kerena mabom perjalanan tapi saat pulang mereka sangat terlihat ceria dan berjoged sambil berdendang menyanyikan lagu-lagu dangdut kesukaan mereka. Jaran goyang semar mesem, suket teki dan lain-lainya mereka nyanyikan sepanjang perjalanan sampai masuk kota purbalingga tercintah. Perjalanan sayapun berakhir di titik dimana saya dijemput saat berangkat. Saya lalu turun dari bus dan mengucapkan salam kepada anak-anak, dan teman satu bus saya. Tak lupa juga saya berterimakasih kepada pak sopir dan asistennya karena telah membawa kami kembali lagi sampai ke tempat asal dengan selamat dan sehat tanpa ada kekurangan apapun.
Itulah petualangan yang dapat saya bagikan selama saya mengikuti perjalanan ke kota pelajar dengan durasi waktu dua hari satu malam. Semoga cerita saya ini dapat menjadikan hiburan bagi pembaca dan referensi wisata jogja yang bermanfaat.
Share:

About

Tentang Spentriku

Spentriku adalah nama keren dari SMP Negeri 3 Kutasari. SMP Negeri 3 Kutasari ini terletak di Jalan Raya Karangjengkol - Tobong Kutasari Purbalingga.