Majalah Dinding

Setiap kelas berkewajiban mengembangkan majalah dinding dibantu oleh wali kelasnya.

Pelatihan Penulisan Puisi

Penulisan puisi bersama Mas Agustav sebagai bagian dari GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Baca Buku 15 menit

Baca buku 15 menit sebelum mata pelajaran sebagai bagian dari GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Pelatihan Jurnalistik

Pelatihan Jurnalistik bersama Mas Ryan Rahman (Wartawan Suara Merdeka).

Pojok Baca

Adanya pojok baca di tiap kelas untuk mendukung GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Tampilkan postingan dengan label Kolomnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolomnis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Hakekat Bicara



Banyak hal yang bisa dirangkum dari kegiatan Training Motivasi hari ini (versi saya). Beberapa yang berhasil dicatat untuk dipantanglupakan diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Berbicara itu mempengaruhi. Seorang motivator agar bisa memotivasi tentu harus mempunyai gaya bicara yang bagus. Gaya bicara yang bisa mempengaruhi. Tegas, percaya diri, semangat, positif, namun tidak melupakan kelemahlembutan. Karena dimana pun hanya kelemahlembutan lah yang bisa menyentuh hati. 
  2. Berbicara adalah awal sukses. Awal dari semua program kesuksesan adalah bicara dengan diri sendiri, membuat komitmen besar untuk diri sendiri. Dimulai dengan interospeksi diri, membuat target atau capaian diri, kendali diri namun tetap pantang lupa diri.
  3. Berbicara itu bisa menjadi air mata. Menyampaikan kerinduan akan pelukan orang tua, menyampaikan penyesalan akan kenakalan selama ini, beberapa terucap jelas, beberapa terbata-bata dan beberapa hanya berupa air mata.
  4. Berbicara itu hambatan. Ternyata banyak bicara bisa menghambat kinerja. Hal ini disajikan indah dalam suatu permainan 'pindah tempat'. Betapa penghalang tercapainya suatu target adalah akibat dari kegiatan berbicara. Berbahaya sekali jika terjadi di lingkungan kerja. Pilih sedikit bicara banyak bekerja atau banyak bicara sedikit bekerja? 
  5. Berbicara belum tentu berkomunikasi. Ini yang berbahaya. Ketika berbicara menyampaikan sesuatu kepentingan tapi tidak langsung dengan yang bersangkutan. Maka kepentingan itu sendiri akan jadi tersamarkan karena tertimbun kepentingan baru. Hal ini terjadi pada permainan estafet air, komunikasi yang orang paling depan dengan orang paling belakang terhalang oleh kepentingan komunikasi orang yang berada di antaranya.
  6. Berbicara itu berbahaya. Ini terjadi jika mengikuti gaya bicara sengkuni. Adu domba. Ibarat memancing di air yang keruh. Orang bodoh bisa dengan mudah membedakan mana sengkuni mana sahabat namun tidak bagi orang jenius. Orang jenius terbiasa berpikir cepat terkadang menyimpulkan beberapa hal pun secepat kilat mengerjakan soal HOTS sehingga tidak bisa membedakan mana sengkuni dan mana sahabat. Catatan keenam ini didapatkan pada permainan menonton hujan. Dan mungkin hanya saya yang mendapatkannya. (Saya beruntung)

Share:

Jumat, 09 Februari 2018

Menitipkan Mimpi Pada Sekolah

Menitipkan Mimpi Pada Sekolah

Tahun 1987, saat itu aku duduk di bangku TK, berseragan atasan baju berwarna putih, bawahan rok hijau. Setiap pagi di antar sekolah oleh ibu sampai depan gerbang sekolah. Saat itu ,aku ingat betul, aku punya mimpi bisa mlebu radio, sebuah kegiatan unjuk kebolehan siswa siswi TK menggunakan media radio. Dahulu TK ku biasa siaran (demikian istilahnya) di Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Purbalingga. Akhirnya, kesempatan itu datang, di suatu hari aku siaran langsung di radio menghafal Surat Al Ikhlas. Ibu berkisah, konon katanya orang serumah meneteskan air mata haru mendengar suaraku. Sebuah kebanggaan bagi mereka. Pulang dari siaran itu, kuterima uang seratus rupiah dari nenek, bahagianya sungguh luar biasa.

Sepuluh tahun kemudian, tahun 1997, aku sudah duduk di bangku SMU, di sekolah ini tak lagi kutitipkan mimpiku semata, tapi ada mimpi bapak dan ibu yang turut serta di dalamnya dan sering tersebut di setiap doa. Mereka menitipkan mimpi supaya aku bisa masuk Fakultas Kedokteran. Mimpi yang agak sedikit berbeda dengan mimpiku. Tapi mimpiku dan mimpi mereka tak pernah bersiteru, dan  pada akhirnya mimpi kami tak ada yang mewujud mengikutiku. Dua kisahku itu, mungkin sudah bisa menunjukkan bahwa setiap bangku di sebuah sekolah itu punya mimpi tersendiri bagi yang mendudukinya. 

Mari merapat ke SMP Negeri 3 Kutasari, sebuah institusi tempat belajar dengan jumlah siswa 306 anak tahun ini. Di bawah didikan dan ajaran 16 orang guru, dibantu secara administratif oleh 8 staf TU, SMP Negeri 3 Kutasari menjadi tempat pilihan menitipkan mimpi. Seharusnya...
Mengapa seharusnya? Karena ada satu dua cerita yang membuat bangunan penitipan mimpi ini tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Sebutlah seorang siswa bernama Panda, duduk di Kelas IX, lebih dikenal sebagai siswa yang bandel, sering membolos, tidak konsentrasi belajar, suka cari perhatian, dan catatan cataan lain yang kurang bagus semua tentangnya. Tapi catatan-catatan itu terkadang kurang lengkap, beberpa perlu dilengkapi agar Pandu bisa nyaman menitipkan mimpinya di sekolah. Beberapa catatan tentang Pandu yang berusaha kulengkapi :
  1. Pandu tidak pernah infak setiap hari jumat, itu karena ia tidak pernah diberi uang saku oleh orang tuanya.
  2. Pandu sering membolos sekolah karena harus mengasuh adiknya yang masih balita ketika ditinggal ibunya bekerja.
  3. Pandu sering terlambat sekolah karena sering bangun kesiangan akibat membantu lemburan pekerjaan ibunya.
  4. Pandu selalu telat membayar iuran sekolah dan tidah pernah membeli LKS itu karena ayahnya yang sepi pekerjaan
  5. Pandu suka cari perhatian karena mungkin permasalahan di rumah sedemikian menganggu kesenangan masa kecilnya
  6. Pandu banyak bicara saat pelajaran karena mungkin ia butuh untuk didengarkan
Suatu hari kutanya Pandu, apa mimpimu? Dan dia menjawab tak punya mimpi apapun. Dia hanya ingin segera menyelesaikan sekolah lalu bekerja untuk keluarga. Ah, Pandu... bukankah itu juga mimpi...mimpimu tak berlebihan...tapi tak menggairahkan

Kasus Pandu di atas, hanya satu dari sekian banyak kisah yang menari-nari di SMP Negeri 3 Kutasari. Masih banyak hal yang perlu dibenahi, menjadikan sekolah sebagai tempat menitipkan mimpi ternyata tidak mudah. Apalagi untuk komunitas lingkungan yang tak punya banyak pilihan akan mimpi, terkunci oleh kemiskinan dan kisah hidup miris lainnya.

Namun setidaknya, ketika sekolah tak lagi menjadi tempat untuk menitipkan mimpi, jadikanlah sekolah sebagai tempat paling menghibur dan paling menyenangkan bagi orang-orang yang tak punya mimpi....


Kutasari, 10 Februari 2018
Dalam Mendung Sabtu Menghitung Mimpi
Share:

Senin, 29 Januari 2018

EFEK DOMINO

EFEK DOMINO

Oleh : Ika Rini


Teori domino adalah teori yang didengungkan sejak tahun 1950 an sampai tahun 1980 an. Suatu teori yang berspekulasi bahwa apabila suatu negara di suatu kawasan terkena pengaruh komunisme maka negara sekitar akan ikut dipengaruhi oleh komunisme melalui efek domino. Analoginya Jika satu baris domino dijatuhkan maka kartu domino sebelahnya aka ikut jatuh dan seterusnya peristiwa yang terjadi berikut sampai jatuhnya domino terakhir terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Sekarang efek domino tak lagi hanya berkaitan dengan komunisme. Semua hal kejadian atau peristiwa dipastikan memiliki efek  domino (baca : konsekuensi).

Sebagai contoh yang agak serius adalah peristiwa kenaikan harga BBM. Efek domino dari pristiwa kenaikan harga BBM bisa digambarkan sebagai brikut :
  1. BBM naik →biaya produksi naik →harga barang naik →daya beli menurun → banyak pabrik gulung tikar → pengangguran → kemiskinan → anak putus sekolah
  2. BBM naik →biaya produksi baju naik → harga baju naik → saya tak mampu beli baju baru → saya tidak modis lagi → suami ditakutkan melirik yang lain
  3. BBM naik → harga emas naik → harga cincin naik → Om Anjar tertunda meminang bunganya → kasihan oh kasihan (sssttt...yess!) 

Tiga contoh efek domino di atas biarlah dipikirkan oleh yang berkepentingan saja. Dengan memahami adanya efek domino, tentu akan membuat kita lebih berhati-hati lagi dalam mengambil keputusan apapun dalam hidup keseharian kita. Menentukan prioritas juga bisa berdasar efek domino yang dihasilkan. Sebagai contoh untuk  penentuan prioritas pekerjaan berikut ini :

  • Mengerjakan 14 kompetensi 
  • Mengerjakan Tagihan Cheklist 
  • Mengerjakan Program Sukses UN
  • Mengerjakan Administrasi Sekretaris UN 
  • Mengerjakan Tulisan Ini...

Tentukan efek domino dari kelima pekerjaan tersebut, pahami dan analisis bahwa pekerjaan dengan efek domino terpanjang adalah pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Namun, pekerjaan dengan efek terpendek ternyata pekerjaan yang paling menyenangkan. Bagaimana? Kalau masih bingung menentukan prioritas mari bersenang-senang saja...


Share:

About

Tentang Spentriku

Spentriku adalah nama keren dari SMP Negeri 3 Kutasari. SMP Negeri 3 Kutasari ini terletak di Jalan Raya Karangjengkol - Tobong Kutasari Purbalingga.