Majalah Dinding

Setiap kelas berkewajiban mengembangkan majalah dinding dibantu oleh wali kelasnya.

Pelatihan Penulisan Puisi

Penulisan puisi bersama Mas Agustav sebagai bagian dari GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Baca Buku 15 menit

Baca buku 15 menit sebelum mata pelajaran sebagai bagian dari GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Pelatihan Jurnalistik

Pelatihan Jurnalistik bersama Mas Ryan Rahman (Wartawan Suara Merdeka).

Pojok Baca

Adanya pojok baca di tiap kelas untuk mendukung GLS (Gerakan Literasi Sekolah).

Tampilkan postingan dengan label GLS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GLS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Gerakan Literasi Sekolah : Belajar Menulis Press Releas

GLS : Belajar Menulis Press Releas

Diawali dengan bernyanyi bersama, kegiatan dalam rangka  mengisi jeda semester di SMP Negeri 3 Kutasari berjalan meriah. Bertempat di ruang laboratorium IPA pada tanggal 12 Maret 2018, kegiatan yang mengambil tema Belajar Menulis Press Releas diikuti oleh seluruh siswa kelas VII dan kelas VIII. Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Kutasari, Arsyad Riyadi, S.Si membuka acara tepat pukul 08.00. Beliau menyampaikan maksud dan tujuan diselenggarakan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan siswa pada dunia jurnalistik terutama berkaitan dengan kemampuan siswa menulis press releas. 

Kegiatan yang merupakan salah satu realisasi dari program literasi sekolah ini, diisi oleh Ryan Rachman, seorang wartawan sebuah koran harian ternama. Selama kurang lebih empat jam, pembicara menyampaikan materi tentang jurnalistik, dngan fokus tema tips menulis berita (press releas). Pembicara menyampaiakan materi dengan ringan dan menyenagkan sehingga waktu enpat jam tidak terasa lama dan tidak melelahkan, kata Revando, ketua OSIS SMP Negeri 3 Kutasari.Di akhir kegiatan semua siswa mempraktekan langsung membuat press releas tentang kegiatan tersebut.
Publikasi dari kegiatan ini salah satunya termuat di Harian Suara Merdeka tanggal 13 Maret 2018 dengan judul artikel 'Siswa SMP 3 Kutasari Diajak Tingkatkan Literasi".









Share:

Senin, 05 Februari 2018

Membumikan Gerakan Literasi Sekolah

Pembiasaan baca buku 15 menit  SMP Negeri 3 Kutasari, www.spentriku.net
Baca buku 15 menit

Membumikan Gerakan Literasi Sekolah

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini telah digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam 2 tahun terakhir ini. Meskipun demikian, gerakan ini belum sepenuhnya membumi meskipun sudah banyak sekolah yang telah menerapkan program ini. Termasuk di dalamnya, menjamurnya berbagai pelatihan menulis, dari menulis cerpen, artikel sampai membentuk buku. Pelatihan menulis buku dan sejenisnya pun marak, khususnya di kalangan para guru.

Memasuki tahun 2018 ini, apakah Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sudah menyatu dengan budaya sekolah atau bahkan menjadi budaya baru di sekolah? Agaknya terlalu tergesa-gesa untuk mengatakan gerakan ini sudah membumi, meskipun juga merupakan pendapat “ngawur” jika mengatakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini hanya berada di awang-awang.

Sebelumnya, kita pahami kembali arti dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini. GLS ini merupakan upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat. GLS ini juga dimaksudkan untuk memperkuat gerakan budi pekerti seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Tentunya kalau diterapkan, gerakan ini mempunyai visi yang sangat luhur. Pertama, mengandung unsur partisipatif yaitu melibatkan seluruh komponen sekolah. Kedua, meningkatkan ketrampilan siswa dalam menerima berbagai informasi, mengelola dan bagaimana mengkomunikasikannya kepada orang lain. Ketiga, menjadi bagian yang terintegrasi dengan pendidik budi pekerti. Perlu diketahu juga bahwa pendidikan budi pekerti ini sejak beberapa tahun yang lalu telah didengung-dengungkan untuk diintegrasikan dengan kegiatan belajar mengajar di kelas bahkan juga dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Salah satu kegiatan dasar dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini adalah melalui kegiatan membaca 15 menit buku-buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Pembiasan membaca buku ini bisa dilakukan dengan membaca dalam hati, guru membacakan sebuah cerita dan kegiatan lain sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing. Pembiasaan membaca 15 menit ini sebagai dasar untuk menempuh tahap selanjutnya, yaitu tahap pengembangan dan pembelajaran.

Arti literasi dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini juga bukan sekedar kegiatan membaca dan menulis, tetapi termasuk di dalamnya kegiatan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan audiori. 

Dalam buku Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, disebutkan ada 6 komponen literasi yaitu literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, dan literasi visual.  Literasi yang pertama, yaitu literasi dini sebagai landasan dasar untuk memperoleh literasi dalam tahap berikutnya. Literasi dini ini mencakup kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Dalam literasi dini ini tentunya banyak melibatkan peran orang tua dan keluarga, guru/PAUD, dan juga pengasuh/pamong. Literasi usia dini ini tentunya tidak boleh berhenti. Untuk siswa SMP dan SMA misalnya, terkait dengan literasi perpustakaan mulai dikenalkan dengan sistem klasifikasi persepuluhan Dewey.

Bagaimana dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP Negeri 3 Kutasari Purbalingga alias Spentriku ini? Apakah sudah mulai dilaksanakan atau masih terasa di awang-awang? 
Di SMP Negeri 3 Kusatari sendiri, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah dirintis sejak tahun ajaran 2017/2018 dengan lebih intensif. Di awali dengan sosialisasi kegiatan ini melalui pembinaan saat upacara bendera, pemberian materi literasi pada siswa guru dan dalam berbagai kesempatan yang lain.

Kegiatan yang lain adalah melalui pembiasaan membaca 15 menit tiap hari rabu, serta adanya jam wajib perpustakaan selama 1 jam pelajaran/minggu. Untuk pembiasaan 15 menit, kegiatan ini dipantau langsung oleh wali kelas masing-masing, sedangkan untuk jam wajib perpus dipantau oleh guru BK, yaitu Ibu First Prihatini. Sebenarnya masih ada juga pembiasaan lain yang terkait dengan literasi, misalnya kegiatan tadarus setiap hari kamis pagi, kajian-kajian pada hari-hari tertentu dan sebagainya.

Sebelum libur semester gasal, sekolah juga mengundang 2 orang penulis yaitu Pak Agus Pribadi dan Pak Agus Triono. Keduanya guru di Purbalingga, penulis, pegiat sastra, pegiat budaya dan juga pegiat Penamas (Penulis Muda Banyumas). Agus Pribadi mengajarkan trik dan tip menuliskan cerpen sedangkan Agus Triono (alias Agustav) mengajarkan cara membuat puisi. Hasil karya siswa hasil pelatihan tersebut dalam jangka waktu dekat akan dibukukan. Tentunya setelah melewati seleksi dari tim Agen Literasi Spentriku yang digawangi oleh Bu Ika Setyarini, Bu Windi, Pak Anjar, Bu Ririn dan guru-guru lain.
Di sisi fasilitas sendiri telah dilakukan penataan ruang perpustakaan. Perpustakaan diatur sedemikian rupa sehingga ada ruang baca “lesehan” maupun ruang baca biasa. Di samping itu dilakukan penambahan buku bacaan dalam jumlah yang cukup signifikan. Di ruang perpustakaan sendiri juga disediakan 8 perangkat komputer yang terhubung ke internet. Di samping itu di sekitar area perpustakaan SMP Negeri 3 Kutasari terdapat hotspots khusus untuk siswa.

Dalam waktu dekat, di ruang guru akan dibuat pojok baca, tempat para guru membaca buku secara nyaman dengan berbagai referensi khususnya mengenai pendidikan. Demikian juga di tiap-tiap ruang kelas, akan dirintis adanya pojok-pojok baca serta pemanfaatan lemari di kelas sebagai tempat menyimpan buku-buku teks pelajaran dan buku lain.

Selain itu, untuk meningkatkan budaya tulis, dibentuk komunitas mading yang bertanggung jawab terhadap terbitnya mading sekolah. Tentunya nanti juga sebagai perintis terbitnya buletin bahkan majalah sekolah. Di setiap kelas sendiri, sebenarnya juga ada mading kelas, namun penerbitannya belum teratur. Sebatas jika ada intervensi dari sekolah atau wali kelas. Dengan dibentuknya komunitas mading ini, diharapkan sekali akan menjadi penggerak literasi di SMP Negeri 3 Kutasari.
Dengan perlahan, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini bukanlah sebuah program yang di awang-awang tetapi akan membumi, dan benar-benar bisa menjadi budaya sekolah.

Tentunya untuk mencapai perjalanan yang entah berapa jauhnnya perlu diawali dengan langkah kecil dulu.

Salam literasi. Salam GLS,




Jam wajib perpustakaan  SMP Negeri 3 Kutasari, www.spentriku.net
Jam wajib perpustakaan

Mading kelas SMP Negeri 3 Kutasari, www.spentriku.net
Mading Kelas

Mading kelas SMP Negeri 3 Kutasari, www.spentriku.net
Mading Kelas

Share:

Selasa, 30 Januari 2018

SMP Negeri 3 Kutasari Tularkan Budaya Literasi Lewat Sastra

SMP Negeri 3 Kutasari Tularkan Budaya Literasi Lewat Sastra

BRALING.COM, PURBALINGGA – SMP Negeri 3 Kutasari menggandeng Komunitas Teater dan Sastra Perwira (Katasapa) untuk mengembangkan budaya literasi sekolah. Pengembangan literasi sekolah ini dikenalkan melalui pelatihan menulis.
Pada kegiatan yang digelar Kamis, 14 Desember 2017, pegiat Katasapa Agustav Triono memberikan materi tentang puisi. Sementara materi tentang cerpen diberikan oleh cerpenis yang juga guru Agus Pribadi.
Peserta pelatihan itu yakni seluruh siswa kelas 7,8 dan 9 yang dibagi menjadi dua sesi. Materi yang diberikan berupa teori kepenulisan serta praktik menulis dan membaca karya sastra.
“Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk mengembangkan budaya literasi yang sekarang sedang digalakkan. Sekaligus untuk kegiatan siswa setelah menempuh Penilaian Akhir Semester Gasal,” kata Arsyad Riyadi, Kepala SMP N 3 Kutasari.
Agus Pribadi menyebut ada beberapa siswa yang punya talenta. Dia berharap budaya menulis di kalangan pelajar bisa terus dikembangkan. Peserta mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias. Saat sesi puisi, mereka secara bergantian membacakan puisi hasil pelatihan.
BANGKIT WISMO
Sumber : http://braling.com/2017/12/smp-negeri-3-kutasari-tularkan-budaya-literasi-lewat-sastra/


Share:

About

Tentang Spentriku

Spentriku adalah nama keren dari SMP Negeri 3 Kutasari. SMP Negeri 3 Kutasari ini terletak di Jalan Raya Karangjengkol - Tobong Kutasari Purbalingga.